Senin, 08 Juli 2013

Bocah 12 Tahun Sendirian Urus Nenek

Bocah 12 Tahun Sendirian Urus Nenek

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam
TRIBUNNEWS.COM -- SINAR matahari pagi menyentuh wajah Siti Masitoh (12) yang tengah meniti jalan setapak di kampungnya. Angin lembut dan dingin membelai tubuh mungil Siti, membuat jilbab hitam yang dikenakannya berkibar.
Sesekali Siti menyembunyikan kedua telapak tangannya di balik jilbabnya. Siti tak kuat menahan dinginnya udara pegunungan dengan hanya mengenakan baju tipis tanpa jaket. Dengan langkah cepat, Siti pun bergegas meninggalkan rumahnya menuju sebuah kebun kentang milik pamannya.
Sesampainya di kebun, Siti langsung mencabut rumput dan tanaman liar yang tumbuh di bawah batang-batang tanaman kentang dengan tangan telanjang. Siti membersihkan kebun itu tanpa aba-aba atau perintah pamannya. Hal itu dilakukannya untuk mencicil pekerjaannya supaya tidak kewalahan saat disuruh pamannya membersihkan kebun.
Belasan baris tegalan tanaman kentang pun akhirnya bebas dari rumput liar. Napas Siti menjadi cepat pertanda dirinya kelelahan. Namun, awan mendung yang menaungi kebun itu membuat udaranya sangat dingin, menyebabkan Siti tidak berkeringat.
Hari itu, Siti tidak mendapat uang sepeserpun dari hasil kerjanya sebab tidak bertemu dengan pamannya. Siti tidak mengeluh, gadis ini meninggalkan kebun itu dan berjalan mengelilingi kampungnya, mengunjungi beberapa kebun sayuran lain.
Siti berharap menemukan kebun sayuran yang tengah dipanen atau bertemu dengan petani lain yang membutuhkan jasanya. Sungguh disayangkan, pagi itu Siti tidak dapat menemukan keduanya. Akhirnya, Siti berjalan memutar untuk kembali ke rumahnya.
Sesampai di rumahnya, Siti disambut neneknya, Dede (45), yang tengah terbaring di dalam rumah panggung seluas 2x3 meter. Dede sedang sakit, tubuhnya lemas karena rematik dan asmanya kambuh.
Duduk di samping neneknya, Siti menceritakan bahwa hari itu ia tidak membawa uang untuk membeli makanan. Dengan suara pelan, Dede menjawab bahwa mereka masih memiliki secangkir beras, beberapa lembar daun kol, dan tiga buah labu sayur, cukup untuk makan hari itu.
"Kadang suka sedih kalau tidak ada yang panen. Saya tidak bisa membantu dan memulung sisa panen di kebun untuk makan. Sudah dua hari ini tidak dapat uang karena tidak ada yang bisa dikerjakan selain membersihkan kebun, itu juga dibayarnya nanti sekalian," kata Siti atau yang akrab dipanggil Itoh ini saat ditemui di rumah mungilnya di Kampung Mulyasari, RT 04 RW 06, Desa Barusari, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Kamis (4/7/2013).
Orang tua Siti meninggalkannya sejak berusia satu tahun. Sejak saat itu, Siti diasuh neneknya. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, Siti dan Dede bekerja sebagai buruh tani dan pemulung sisa panen. Saat mendapat pekerjaan dari petani, Siti biasanya mendapat upah Rp 5.000, sedangkan Dede mendapat Rp 10.000.
Dede, ucap Siti, sering sakit akhir-akhir ini dan membuatnya tidak bisa bekerja maksimal. Akhirnya, uang yang mereka dapatkan pun tidak terlalu banyak. Namun, di balik keterbatasannya, nenek dan cucu ini selalu semangat menjalani hidup.
"Buat apa nangis juga, sedih-sedihan, gak ada gunanya. Mending bekerja aja dan dapat uang untuk makan. Nenek mengajarkan saya untuk tidak pernah mengharap pemberian orang lain. Lebih baik kalau kita bekerja dan mendapat upah daripada minta-minta," kata Siti yang sangat menyukai buah apel ini.
Siti baru saja lulus dari sekolahnya, SD Padaawas 2. Namun, Siti tengah kebingungan untuk melanjutkan sekolahnya. Jika melanjutkan sekolah di SMP Pasirwangi, dirinya harus berjalan kaki selama lebih dari dua jam ke sekolah karena rumahnya sangat jauh dari pusat kecamatan dan sekolah.
"Kadang suka iri, anak lain bisa main ke Puncak Darajat pas liburan, tapi saya yang orang sini tidak bisa. Tapi kata nenek, kita harus bersyukur seperti apapun kehidupan kita dan jangan pernah menyerah. Saya harus bisa lanjutkan sekolah supaya bisa jadi guru, perawat, atau dokter. Nanti mau daftar sekolah," tutur Siti.
Hari semakin siang dan langit semakin gelap tertutup awan tebal. Gerimis mulai membasahi bukit-bukit berselimut kebun sayuran ini. Siti duduk di sebelah neneknya sambil menutup kedua kakinya dengan selimut. Siti berencana menghabiskan siangnya itu dengan membaca buku cerita. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AdSense